Singa dan Burak Menghiasi Lambang Aceh dalam Rancangan Qanun f



ACEH - Lambang Aceh yang dituliskan dalam Rancangan Qanun Bendera dan Lambang Aceh terdiri dari beberapa gambar seperti singa dan burak. Kedua gambar ini lebih dominan dibandingkan gambar lain yang lebih kecil seperti rencong, gliwang, perisai, rangkaian bunga, daun padi, jangkar, huruf ta tulisan Arab, kemudi, dan bulan bintang.

Ada juga tulisan semboyan hudep beu sare mate beu sajan dalam aksara Arab Melayu. Warna yang digunakan pada lambang Aceh itu ialah kuning, kuning keemasan, hitam, dan biru.
Seperti tertulis dalam bab tiga pasal 17 ayat dua, singa melambangkan adat bak po teumeuruhom dan burak berarti hukom bak Syiah Kuala.
Adapun rencong, gliwang, dan perisai melambangkan reusam Aceh, rangkaian bunga berarti Qanun Aceh, daun padi melambangkan kemakmuran, serta jangkar melambangkan Aceh satu pulau umpama kapal layar.
Lalu, kemudi melambangkan kepemimpinan Aceh berdasarkan mufakat oleh Majelis Tuha Peut dan Tuha Lapan, dan bulan bintang sebagai cahaya iman yang melindungi rukun Islam.
Semboyan hudep beu sare mate beu sajan berarti rakyat Aceh sama rasa, sama rata, serta hak dan kemuliaannya terjamin.
Adapun huruf ta dalam aksara Arab bermakna menjadi pemimpin Aceh adalah umara dan ulama yang berasal dari tuanku, teuku, dan teungku.

Namun, Fuad Hadi Woyla, Dosen FISIP Universitas Teuku Umar, Meulaboh, menilai makna huruf ta bisa multitafsir.
“Karena ini bisa diartikan bahwa selain dari keturunan tuanku, teuku dan teungku tidak boleh atau bukan pemimpin Aceh,” ujar Fuad dalam suratnya kepada ATJEHPOSTcom, Kamis lalu. Ia mengatakan Aceh memiliki masyarakat yang sangat plural.
“Tujuan aturan ini dibuat kan didasari oleh asas ketertiban, persatuan, serta kepentingan umum. Jadi, jangan sampai menghilangkan nilai-nilai yang terkandung dalam asas tersebut,” ujar Fuad.
Ia berharap rancangan qanun itu bisa segera disahkan dengan beberapa revisi sehingga Aceh memiliki kekhasan dibandingkan daerah lain.
Guna mendapat masukan terkait qanun tersebut, DPR Aceh juga mempublikasikan draft rancangan qanun identitas ke media. Hal ini dilakukan untuk mendapat partisipasi publik dan masukan-masukan positif dari masyarakat Aceh. Isi lengkap rancangan qanun ini bisa anda dapatkan di tabloid mingguan The Atjeh Times yang beredar Senin, 19 November 2012 (versi cetak), 
Selain itu, DPR Aceh juga turut menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum selama dua hari. Pada Senin 19 November di di Gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, Darussalam Banda AcehLalu pada 20 November 2012 di gedung serba guna DPR Aceh.[](rz)

- See more at: http://atjehpost.com/read/2012/11/19/28307/368/31/Singa-dan-Burak-Menghiasi-Lambang-Aceh-dalam-Rancangan-Qanun#sthash.3km454SA.dpuf

0 comments:

Poskan Komentar

Senin, 25 Maret 2013

Singa dan Burak Menghiasi Lambang Aceh dalam Rancangan Qanun f



ACEH - Lambang Aceh yang dituliskan dalam Rancangan Qanun Bendera dan Lambang Aceh terdiri dari beberapa gambar seperti singa dan burak. Kedua gambar ini lebih dominan dibandingkan gambar lain yang lebih kecil seperti rencong, gliwang, perisai, rangkaian bunga, daun padi, jangkar, huruf ta tulisan Arab, kemudi, dan bulan bintang.

Ada juga tulisan semboyan hudep beu sare mate beu sajan dalam aksara Arab Melayu. Warna yang digunakan pada lambang Aceh itu ialah kuning, kuning keemasan, hitam, dan biru.
Seperti tertulis dalam bab tiga pasal 17 ayat dua, singa melambangkan adat bak po teumeuruhom dan burak berarti hukom bak Syiah Kuala.
Adapun rencong, gliwang, dan perisai melambangkan reusam Aceh, rangkaian bunga berarti Qanun Aceh, daun padi melambangkan kemakmuran, serta jangkar melambangkan Aceh satu pulau umpama kapal layar.
Lalu, kemudi melambangkan kepemimpinan Aceh berdasarkan mufakat oleh Majelis Tuha Peut dan Tuha Lapan, dan bulan bintang sebagai cahaya iman yang melindungi rukun Islam.
Semboyan hudep beu sare mate beu sajan berarti rakyat Aceh sama rasa, sama rata, serta hak dan kemuliaannya terjamin.
Adapun huruf ta dalam aksara Arab bermakna menjadi pemimpin Aceh adalah umara dan ulama yang berasal dari tuanku, teuku, dan teungku.

Namun, Fuad Hadi Woyla, Dosen FISIP Universitas Teuku Umar, Meulaboh, menilai makna huruf ta bisa multitafsir.
“Karena ini bisa diartikan bahwa selain dari keturunan tuanku, teuku dan teungku tidak boleh atau bukan pemimpin Aceh,” ujar Fuad dalam suratnya kepada ATJEHPOSTcom, Kamis lalu. Ia mengatakan Aceh memiliki masyarakat yang sangat plural.
“Tujuan aturan ini dibuat kan didasari oleh asas ketertiban, persatuan, serta kepentingan umum. Jadi, jangan sampai menghilangkan nilai-nilai yang terkandung dalam asas tersebut,” ujar Fuad.
Ia berharap rancangan qanun itu bisa segera disahkan dengan beberapa revisi sehingga Aceh memiliki kekhasan dibandingkan daerah lain.
Guna mendapat masukan terkait qanun tersebut, DPR Aceh juga mempublikasikan draft rancangan qanun identitas ke media. Hal ini dilakukan untuk mendapat partisipasi publik dan masukan-masukan positif dari masyarakat Aceh. Isi lengkap rancangan qanun ini bisa anda dapatkan di tabloid mingguan The Atjeh Times yang beredar Senin, 19 November 2012 (versi cetak), 
Selain itu, DPR Aceh juga turut menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum selama dua hari. Pada Senin 19 November di di Gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, Darussalam Banda AcehLalu pada 20 November 2012 di gedung serba guna DPR Aceh.[](rz)

- See more at: http://atjehpost.com/read/2012/11/19/28307/368/31/Singa-dan-Burak-Menghiasi-Lambang-Aceh-dalam-Rancangan-Qanun#sthash.3km454SA.dpuf
ACEH RED © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute